Berkerumun Melawan Stigma

15 Januari 2016    |    Lustrum, Reuni, Berita

Berkerumun Melawan Stigma

 

kompas

17 Oktober 2015

Puluhan siswa laki-laki sibuk mengatur acara. Mereka bekerja bersama dengan puluhan orang dewasa. Laki-laki juga. Hanya saja dari usia, mereka yang dewasa lebih pantas disebut ayah atau bahkan kakek mereka. Mereka adalah alumni SMA Pangudi Luhur Jakarta yang pada Sabtu (17/10) merayakan reuni akbar sekaligus hari jadi ke-50 atau lustrum ke-10.

Sedikitnya 3.520 orang dari 47 angkatan hadir dalam acara itu, mulai angkatan pertama yang masuk sejak SMA Pangudi Luhur (PL) didirikan, yaitu tahun 1965, sampai angkatan yang baru lulus pada 2015. Semuanya laki-laki karena sejak didirikan PL memang ditetapkan sebagai SMA yang hanya menerima siswa laki-laki.

Setiap angkatan tampil dengan seragam masing-masing. Mereka berdatangan sejak pukul 08.00, sebagian besar dengan berjalan kaki dari berbagai arah. Setiap angkatan menentukan sendiri titik kumpulnya, lalu berjalan kaki ke Jalan Brawijaya.

Penampilan mereka berbeda- beda. Ada kelompok yang masih muda dengan rambut gondrong atau potongan bergaya Indian Mohawk. Ada juga rombongan kakek-kakek yang sudah tidak lagi punya rambut. Yang sama hanya perilaku dan ekspresi keceriaan mereka.

Semua berteriak, saling dorong, dan bercanda dengan cara cenderung kasar dan urakan. Di satu pojok ada seorang laki-laki yang dilucuti pakaiannya oleh teman-temannya, diangkat, lalu dilempar-lemparkan ke udara. Yang jadi korban tampak tertawa walaupun sambil memaki-maki dan berkata-kata kasar. Di tempat lain, beberapa laki-laki saling menyemprotkan air dari botol mineral dan melempar botol plastik kosong, juga sambil berkata-kata kasar.

Segala canda dan teriakan terhenti ketika acara dimulai dengan lagu ”Indonesia Raya”. Lagu kebangsaan dilantunkan dengan suara berat karena ketiadaan suara perempuan.

Namun, sesaat kemudian mereka bernyanyi sambil berteriak ketika band campuran beberapa angkatan membawakan ”Mars Pangudi Luhur” dalam irama heavy metal. Joget urakan juga mereka tampilkan ketika hiburan tarling cirebon dibawakan artis tamu yang tampil di panggung. Mereka juga riuh bertepuk tangan ketika siswa-siswa SMA PL tampil menampilkan musik keroncong. Banyak yang ikut bergoyang ketika sekelompok penari belly dance tampil di satu sudut sekolah.
Meski seluruh alumni dan siswa PL laki-laki, banyak perempuan tampak dalam reuni ini, termasuk salah satu pembawa acara, Luna Maya. Artis yang tampil santai di tengah ribuan laki-laki itu menambah meriah suasana reuni.

Terjebak stigma
Reuni adalah cara tradisional paling sering dipilih untuk memelihara kekerabatan. Reuni itu ajang bertemu teman lama, bersilaturahim, bersyukur, atau malah pamer status. Ada yang mengartikannya sederhana saja, reuni itu ajang melawan lupa.

Mungkin reuni akbar Ikatan Alumni SMA Pangudi Luhur Jakarta, Sabtu lalu, digelar dengan bermacam niat. Namun, kali ini ada semangat menggebu justru dari alumninya. Bukan untuk silaturahim atau melawan lupa, melainkan melawan stigma.

Reputasi SMA PL seolah hancur ketika pada 2007 terjadi kasus kekerasan di sekolah (bullying). Ketika itu, siswa kelas I, Blasius Adi Saputra, dianiaya para seniornya. Adi dipukuli dengan botol dan diintimidasi. Ia bahkan pernah ditelanjangi dan disunduti rokok di salah satu toilet sekolah yang disebut sebagai kamar eksekusi. Adi melapor ke polisi. Empat siswa pelaku kekerasan dikeluarkan. Kasus ini seolah menjadi puncak dari rangkaian kasus kekerasan di banyak sekolah di Jakarta.

Kasus itu terjadi tujuh tahun lewat. Pihak Yayasan PL, kepala sekolah, dan seluruh guru sudah berusaha keras menghilangkan budaya kekerasan. Kini PL justru membanggakan soliditas semua murid yang mereka gembargemborkan lewat istilah Brawijaya Brotherhood. Namun, stigma sebagai SMA yang akrab dengan kekerasan tidak juga hilang. SMA yang telah meluluskan 8.000-an alumnus itu terjebak stigma kekerasan dan makin terpuruk. Muridnya kini hanya 217 orang, anjlok dari jumlah sebelum 2007 yang rata-rata 480 murid.

Usaha melawan stigma itu menyatukan sekolah, siswa, dan alumni. Tak sedikit alumni datang dari luar kota ataupun luar negeri untuk menghadiri reuni. ”Saya dari Brussels, Mungkin says yang terjauh,” ujar Kristanyo, angkatan 1979.

”Kami, alumni, tak akan membiarkan nama PL meredup dengan stigma yang terus menempel. Ini bukan lagi sekadar soal meningkatkan kualitas pendidikan, melainkan memulihkan nama baik yang tidak bisa dipikul hanya olah bruder, guru dan yayasan, serta siswa,” ujar Suryo Susilo, alumnus angkatan 75 yang juga ketua panitia reuni.

Kebetulan PL memiliki alumnus yang punya posisi cukup menonjol, seperti Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo, dan pengusaha Ponco Sutowo. ”Alumnus yang kini sudah menjadi tokoh dan yang punya peluang berkontribusi memulihkan nama baik PL, kami harapkan bisa membantu,” ujar Broeder Bambang Nugroho, Ketua Yayasan Pangudi Luhur.

Sebab, seperti dikatakan Kepala Sekolah Broeder Titus Totok Tri Nugroho, meski para guru dan semua siswa sudah melakukan transformasi total dalam proses pembelajaran, budaya, suasana, dan sistem pembelajaran, pemulihan nama baik membutuhkan peran dari para alumnusnya.

”Kami ingin kembali menjadi sekolah unggulan seperti dulu. Solid, respek tanpa rasa takut, dan penindasan. Kami ingin lagi dikenal sebagai sekolah laki-laki dengan siswa yang pintar dan kreatif,”ujarnya.

Bukti perhatian kerumunan alumni dibuktikan lewat rangkaian acara yang digelar selama setahun sebelum puncak acara reuni akbar digelar kemarin.

”Kami sudah membuat berbagai acara seminar, lokakarya, pelatihan, lomba lari, fun bike, aksi sosial, pergelaran wayang, dan pertunjukan musik,” ujar Markus Kepra Prasetyo saat memimpin penggalangan dana.

Upaya melawan stigma ini, dalam setahun terakhir, membuat alumni PL menjadi komunitas yang semakin solid dan intens berkegiatan bukan hanya memulihkan citra almamater, melainkan juga memberdayakan teman-teman sesama alumnus. Itu semua dilakukan untuk memulihkan citra PL seperti saat dicanangkan 50 tahun lalu. Pintar, kreatif, berkarakter, meski kadang nakal dan urakan.
(NUG)

Foto:
KOMPAS/NUGROHO FERIYUDHO
Beragam acara dan pentas hiburan ditampilkan dalam acara Peringatan 50 Tahun SMA Pangudi Luhur Jakarta, Sabtu (17/10).

Kembali

Tutup

Cari

Close